(Tulisan ini adalah catatan ketiga yang dikirim oleh penulis) 

                                                                            Gambar diunduh dari bing.com


Jangan pernah percaya pada orang lebih banyak memegang ponsel daripada membaca buku (Emma Watson).
Ah....
Jadi ingat waktu di pesantren dulu. Ada qaidah yang mengatakan bahwa
Membawa buku sama wajibnya dengan mengerjakan shalat fardu.

Indeed. Setiap santri, kemana-mana pasti membawa buku. Bahkan ke toiletpun membawa buku. Tidak hanya dibawa, tentu saja. Tapi juga dibaca. Dan Anda akan bisa membedakan santri dengan siswa picisan.
Santri, memegang buku, beberapa lipatan kertas catatan di dalamnya, dan sebuah balpen.
Siswa picisan? Hanya ada sebuah buku merek Mirage berisi 20 lembar, terlipat di saku celana abu-abu. Ahahahaha.
Ok, lupakan santri dan siswa. Kembali ke buku.

Seorang guru pernah berkata;

Mereka yang tak membaca dalam sehari saja, maka haram baginya surga. 

Aih. Ekstrem, kan? Tentu saja. Saking pentinya sebuah buku. Bahkan Mbah Zawawi pernah berkata;

Saat aku ke toilet dan lupa membawa buku, aku merasa sangat berdosa. 

Celakanya, akhir-akhir ini, negeri ini memperoleh label bangsa terburuk dalam literasi. Damn. This make me mad, kata seorang teman penulis.
Kenapa sih, literasi kita benar-benar berada di titik nadir? Jawabannya sederhana. Setiap kali kita memegang pimonsel, yang ada hanya Wassap saja. Mengunduh video des-tak-des dan meneruskannya ke grup sebelah.
Ada dokumen, teruskan. Ngerti tak ngerti, bodo amat. Hahahaha.

Keislaman kita kok ya gini-gini amat. Padahal kata Al-Quran:

Jangan katakan kami melihat, tapi katakanlah kami menyimak" (QS. Al-Baqarah 104).

Tuh, kan....
Menyimak. Bukan ngeliat doang. Pantengin, bukan dilirik doang

Jadi, persetan dengan digital. Si Mbah saya mengajari saya menyimak bukan dengan andoid, tapi remah kapur tulis di papan hitam. Bukan dengan digibook tapi dengan shuhuf Al-Quran.

Tunggu....
Saya tidak anti pada teknologi. Di antara banyak teman seprofesi, hanya beberapa orang yang saya anggap level native technology-nya setara dengan saya. Hahahaha.

But....
Lihatlah lemari buku di rumah saya, dana yang saya habiskan untuk mengumpulkannya hampir setara dengan biaya langganan Indiehome 50Mbps selama 10 tahun.
Sekali lagi....

Mbok ya jangan muluk-muluk, Mazzeh_. Baca buku konvensional dulu, baru sok keren dengan belajar digi dan ele.

Jadi saya anggap, mereka yang tak punya perpustakaan di rumahnya sebagai orang miskin yang bahkan tak mampu beli karya Fujiko F. Fujio. Thats it.

(Teks asli berbahasa Arab dalam Al-Wafa, 16 Jumadil Ula 1440 H).

Catatan Keempat.