Wanita yang suka membaca pasti bijaksana.
Tidak. Saya tidak lebay. Saya tidak cukup pintar untuk memuji seseorang. Tapi yang jelas, saya selalu suka buku. Salah satu teman yang diciptakan oleh Tuhan tanpa keluhan. Sebetapapun brengseknya kita memperlakukannya, buku akan selalu memberikan kebijaksanaan. Seperti istri saya yang suka buku. Salah satu alasan mengapa saya menganggap istri saya sempurna.
Saya jadi teringat peristiwa dengan istri saya dan sebuah ungkapan di sebuah status sosial media.
When you go to the mall, hold your wife's hand. That seems romantic, but it's a precaution.
Kata seorang Mpu nun jauh di negeri antah berantah sana. Rasanya tak perlu saya terjemahkan. Semua ponsel punya aplikasi bernama translater. So.... Lanjut.
Suatu sore di bulan berawan, saya menemani istri saya belanja ke pasar tradisional. Tentu. Banyak wanita lebih memilih pasar tradisional untuk membeli bahan makan malam daripada pesan di emarketplace. Kelamaan. 😁
Namanya pasar, tawar menawar adalah hal ghalib. Bahkan saat memulai pembelajaran, para guru juga sering tawar menawar dengan murid yang akan membeli dagangannya. Eh....
Kembali ke guru, eh, pasar maksud saya. Tak ada kamus menawar dalam dunia istri saya. Saat berdiri di depan Kang Sayur, dia akan bilang: "Kang. Beli kangkung seikat" dengan menyodorkan uang yang pertama kali ia raih dari dompetnya. Atau kali waktu yang lain dia akan berkata: "Saya beli ikannya 20 ribu" dengan menyodorkan uang dua puluh ribuan dengan wajah tanpa dosa. Tanpa menawar, tanpa menanyakan harga. Dan alhasil, para tetangga sering bilang; "Biasa, istri PNS" Ahahhaha. Bukan. Bukan itu alasannya.
Selain istri saya tak pandai merayu, eh, menawar, ia juga selalu berpikir logis.
"Waktu yang kau habiskan untuk menawar sama berharganya dengan uang yang mungkin kau hasilkan dari tawar-menawar"
Kali waktu yang lain dia juga berkata; "Mas pernah nawar di Inxoxxxt? Tidak kan? Itu milik non muslim, lho. Lha ini, Mbah penjual kangkung, yang untungnya hanya cukup untuk beli popok anakmu, masa kau masih tega menawar?" That's it. Sederhana dan layak untuk menjadi istri saya. 🤣
Urusan menawar wanita memang ahlinya. Tak apa. Tapi berpikirlah sederhana. Benar kata istri saya. Para pedagang kecil di pojok pasar sana, yang lapaknya hanya karung bekas, itu si Mbah yang keliling kota memikul buah siwalan, berapa sih untungnya? Jika pada mereka yang papa saja kita menawar dengan gila-gilaan, apa bukan tidak mungkin kalau Tuhan memang tak menganugerahi timbang rasa pada kita?
إرحموا من فالأرض يرحمكم من في السماء
Sayangilah mereka yang ada di bumi, niscaya Dia yang di langit akan mengayangimu. Dan tidak menawar pada pedagang papa juga termasuk bentuk dari menyayangi. Those without compassion can't live long.
Ah. Iya. Satu lagi kenangan tentang pertemuan saya dengan istri saya. Parfum yang ia pakai. Angelique Noire Guerlain. Angelique-scented angel. Like her eyes.
0 Komentar