Seorang teman berkata,
Jika dulu Tuhan menciptakan seorang guru dengan _lisensi_ derajat yang tinggi dan layak dijadikan gugu tiru, mungkin sekarang Dia telah menghilangkan 2 kehormatan itu.
Hal baru ini. Pikir saya. Tentu saja. sampai saat ini, selain ayah dan ibu saya, guru-guru sayalah yang paling saya takuti sampai ke tulang sumsum. Tunggu. Mungkin diksinya bukan takut, tapi kagum. Seorang yang mempunyai derajat tinggi dan layak digugu dan ditiru adalah great being yang layak dikagumi dan dihormati. Dan setelah Sang Nabi, figur yang saya takzimi adalah orang tua dan guru saya. All the things, filial comes first, prinsip saya. Berbakti pada orang tua di atas segalanya. Seperti yang pernah saya tulis di sebuah kolom,
Those without respect can't live long.
Celakanya. Figur orang tua dan guru tak lagi memiliki kelayakan berarti untuk dihormati oleh generasi kekinian. Separah inikah distorsi yang dibawa guru dalam jaringan seperti profesor Gugel dan Mister Netijen?
Indeed. Cara menjajah yang paling gampang adalah dengan menyodorkan fantasi, kata Legenda Pablo Escobar, sang nabi dalam dunia Undercover Law itu.
Kembali pada guru klasik yang terus terkikis oleh guru modern dari negeri Meta....
Pada dasarnya, sebuah pengetahuan akan melahirkan tanggung jawab yang besar. Semakin banyak yang kita tahu, semakin banyak tanggung jawab yang kita emban. As wise man said;
Knowledge gives responsibility.
Celakanya, tak semua orang berpengetahuan itu dianugerahi hidayah oleh Allah. Dan ketika itu yang terjadi, habislah ia.
من يزداد علما ولم يزدد هدا فلا يزداد إلا بعدا
Mereka yang bertambah pengetahuannya tapi tidak bertambah (anugerah) hidayahnya, maka tidak bertambah darinya kecuali jauh dari Allah.
Dan....
Orang yang jauh dari Sang Pencipta tentu tidak layak untuk dihormati. Setinggi apapun ilmu pengetahuan. Bagaimana murid akan menghormati seorang guru jika sang guru tidak dihargai oleh Sang Pencipta? Alangkah ironinya. Guru yang dinisbatkan sebagai suri tauladan yang baik malah jauh dari kebaikan. Sedangkan Sang Nabi berkata;
Aku tidak diutus ke dunia ini kecuali untuk menyempurnakan perilaku yang baik.

0 Komentar