Konon, kata si Mbah, manusia itu adalah mamalia dengan nilai plus. Karena dibandingkan mamalia lainnya manusia diberi sebuah kelebihan. Keinginan untuk belajar. Oleh karena itu, Imam Syafi'ie rahimahullah berkata;
الإنسان حيوان المتعلم
Manusia adalah mamalia yang (mau) belajar. Faktor pembeda dari mamalia picisan lainnya. Hehe.
Celakanya, saat Mas Menteri bilang setiap perubahan perlu kesungguhan, tak banyak dari manusia pendidikan yang mampu menginterpretasikannya. FPBnya gampang dicari. Mereka yang tak mampu mengejawantahkan kalimat mas Menteri tersebut sudah kehilangan fitrah kemanusiaannya. That's it.
Ya Tuhan. Jangan terlalu ekstrem, Mas Jek. Masa' langsung diklaim kehilangan fitrah kemanusiannya? Kejam itu.
Ok. Saya akan ubah diksinya. Mereka yang tak bisa mengartikan petuah Mas Menteri itu adalah mereka yang terdistorsi pemikirannya. Gitu aja, ya? Hehehe.
Baik. Kembali ke CP ATP yang akan kita bahas hari ini....
Banyak dari kita yang selalu apatis saat ada sebuah hal yang baru. Benar memang, kata Mas Menteri, setiap revolusi selalu melahirkan retensi. Tapi kita ini manusia, kan, Mas? Yang tak lepaas dari 2 siklus alam. Revolusi dan evolusi. Jika kita menolak untuk belajar 2 hal itu, tentu kemanusiaan kita perlu dipertanyakan. Seperti kata Sang Imam kita di atas, Manusia dikatakan manusia jika ia masih mau belajar.
Celakanya, banyak dari kita yang merasa, saat umur menua tak ada lagi kewajiban belajar. Tak ada lagi kemauan untuk belajar dan berkembang.
Padahal sang Nabi juga sudah bersabda,
"Belajar itu kewajiban bagi semua muslim (laki-laki dan perempuan)"
طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة
Ada lagi adagium religi yang menyatakan bahwa kewajiban belajar itu dari buaian sampai dengan liang lahat. So. Batas kita untuk belajar sampai mati, kan? Mau tua, mau stroke, mau diabetes meletus, wajib terus belajar. Titik.
Dulu sekali, saat di bangku SMA, seorang Syaikh berkata pada saya;
"Falsafah seorang muslim itu, memelihara tradisi lama yang baik, dan mengadopsi tradisi baru yang lebih baik".
المحافظة على قديم الصالح والأخد بالجديد الأصلح
Apalagi yang kurang dari pernyataan di atas? Tapi kata teman nongkrong saya; "Beri mereka dalil sebanyak jumlah ayat QS. Al-Baqarah, mereka tak akan pernah percaya. Karena sejatinya, mereka tahu itu semua, tapi tidak mau untuk percaya". Eh....
Tidak. Saya tidak percaya pernyataan teman saya itu. Masih ada sejumput teman saya yang mau berkembang, entah tua, entah muda. Tak banyak memang, tapi masih ada, kok. Ibarat kata pepatah Madura, lebih baik sedikit daripada tidak ada sama sekali.
Benar memang, hanya sedikit orang yang punya "Heart like mirror, willpower like iron". Hati sejernih cermin, kemauan sekuat besi.
Tapi Tuhan tak akan memberikan beban kecuali sesuai dengan kemampuan kita, kan? So. The choice is still of yours.
Mau menjadi mamalia, atau menjadi mamalia yang rajin belajar dan mau berkembang.
Catatan selanjutnya.
0 Komentar